Tarawih: 8 Rakaat atau 20 Rakaat?


Bismillah …

Sebelum kita masuk pada pembahasan “Mana yang afdhol sholat Tarawih 8 (delapan) atau 20 (dua puluh) raka’at”, marilah kita mengerti dulu apa itu sholat Tarawih. “Tarawih” dalam bahasa Arab adalah bentuk jamak dari تَرْوِيحَةٌ (Tarwiihah-tun), yang berarti waktu sesaat untuk istirahat. (Lisanul ‘Arab, 2/462 dan Fathul Bari, 4/294).

Dan تَرْوِيحَةٌ pada bulan Ramadhan dinamakan demikian karena para jamaah beristirahat setelah melaksanakan shalat tiap-tiap empat rakaat. Artinya, ada waktu beristirahat setiap selesai mengerjakan empat raka’at (dua kali salam), karna sholatul lail (malam) masna’-masna’ (dua dua raka’at). Sholat yang dilaksanakan secara berjamaah pada malam-malam bulan Ramadhan dinamakan Tarawih. (Syarh Shahih Muslim, 6/39 dan Fathul Bari, 4/294).

Karena para jamaah yang pertama kali berkumpul untuk sholat tarawih beristirahat setelah dua kali salam (yaitu setelah melaksanakan 2 rakaat ditutup dengan salam kemudian mengerjakan 2 rakaat lagi lalu ditutup dengan salam). (Lisanul ‘Arab, 2/462 dan Fathul Bari, 4/294)

Hukum Sholat Tarawih

Hukum sholat Tarawih adalah mustahab (sunnah), sebagaimana yang dikatakan oleh al-Imam an-Nawawi rahimahullaahu ketika menjelaskan tentang sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa menegakkan Ramadhan dalam keadaan beriman dan mengharap balasan dari Allah Subhaanahu wa Ta’aala, niscaya diampuni dosa yang telah lalu.” (Muttafaqun ‘alaih)

“Yang dimaksud dengan qiyamu Ramadhan adalah sholat tarawih dan ulama telah bersepakat bahwa sholat Tarawih hukumnya mustahab (sunnah).” (Syarh Shahih Muslim, 6/282).

Jumlah Sholat Tarawih

Di kalangan kaum Muslimin sering terjadi perselisihan dan perbedaan pendapat mengenai jumlah sholat Tarawih yang sah (afdhol) dikerjakan, sehingga pihak yang satu menyalahkan pihak yang lain begitu juga sebaliknya. Sebenarnya masalah ini tidak akan timbul, jika di kalangan para Ulama atau pemuka-pemuka agamanya belajar dan paham masalah fiqih. Sehingga saudara-saudara kita yang awam dan menganut sistem takhliq (ikut-ikutan) tidak terjebak salah persepsi mana yang benar (delapan atau dua puluh). Nah saudara-saudaraku mari kita kembali ke sejarah dimulainya sholat Tarawih ini berdasarkan sumber dari riwayat (hadits-hadits yang shohih).

Pertama: Hadits yang diriwayatkan dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman, beliau bertanya pada ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anhatentang sifat sholat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pada bulan Ramadhan, beliau menjawab:

مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

“Tidaklah (Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam) melebihkan (jumlah rakaat) pada bulan Ramadhan dan tidak pula pada selain bulan Ramadhan dari 11 rakaat.” (HR. al-Imam al-Bukhari)

‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha dalam hadits di atas mengisahkan tentang jumlah rakaat shalat malam Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang telah beliau saksikan sendiri yaitu 11 rakaat, baik di bulan Ramadhan maupun bulan lainnya. “Beliaulah yang paling mengetahui tentang keadaan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam di malam hari daripada lainnya.” (Fathul Bari, 4/299)

Asy-Syaikh Nashiruddin al-Albani rahimahullaahu berkata, “(Jumlah) rakaat (shalat tarawih) adalah 11 rakaat. Kami memilih tidak lebih dari (11 rakaat) karena mengikuti Rasulullah n, maka sesungguhnya beliau Shallallahu alaihi wa sallam tidak melebihi 11 rakaat sampai beliau Shallallahu alaihi wa sallam wafat.” (Qiyamu Ramadhan, hlm. 22)

Kedua: Dari Sa’ib bin Yazid beliau berkata,

أَمَرَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ وَتَمِيمًا الدَّارِيَّ أَنْ يَقُومَا لِلنَّاسِ بِإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً

“’Umar bin al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu memerintahkan pada Ubai bin Ka’b dan Tamim ad-Dari untuk memimpin shalat berjamaah sebanyak 11 rakaat.” (HR. al-Imam Malik, lihat al-Muwaththa Ma’a Syarh az-Zarqani, 1/361 no. 249)

Asy-Syaikh Nashiruddin al-Albani rahimahullaahu berkata dalam al-Irwa’ (2/192) tentang hadits ini, “(Hadits) ini isnadnya sangat sahih.” Asy-Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin rahimahullaahu berkata, “(Hadits) ini merupakan nash yang jelas dan perintah dari ‘Umar radhiyallaahu ‘anhu, dan (perintah itu) sesuai dengannya karena beliau termasuk manusia yang paling bersemangat dalam berpegang teguh dengan As-Sunnah. Apabila Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidak melebihkan dari 11 rakaat maka sesungguhnya kami berkeyakinan bahwa ‘Umar radhiyallaahu ‘anhu akan berpegang teguh dengan jumlah ini (yaitu 11 rakaat).” (asy-Syarhul Mumti’)

Adapun pendapat yang menyatakan bahwa shalat tarawih itu jumlahnya 23 rakaat adalah pendapat yang lemah karena dasar yang digunakan oleh pemegang pendapat ini hadits-hadits yang lemah. Di antara hadits-hadits tersebut:

1. Dari Yazid bin Ruman beliau berkata,

كَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ فِي زَمَانِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي رَمَضَانَ بِثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً

“Manusia menegakkan (shalat tarawih) di bulan Ramadhan pada masa ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu 23 rakaat.” (HR. al-Imam Malik, lihat al-Muwaththa Ma’a Syarh az-Zarqani, 1/362 no. 250) 

Al-Imam al-Baihaqi rahimahullaahu berkata, “Yazid bin Ruman tidak menemui masa ‘Umar radhiyallaahu ‘anhu.” (Nukilan dari kitab Nashbur Rayah, 2/154) (sehingga sanadnya munqathi’/terputus, red.). Asy-Syaikh Nashiruddin al-Albani rahimahullaahu mendha’ifkan (melemahkan) hadits ini sebagaimana dalam al-Irwa’ (2/192 no. 446).

2. Dari Abu Syaibah Ibrahim bin ‘Utsman, dari Hakam, dari Miqsam, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhum:

أَنَّ النَّبِيَّ كَانَ يُصَلِّي فِي رَمَضَانَ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً وَالْوِتْرَ

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam shalat di bulan Ramadhan 20 rakaat dan witir.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Mu’jamul Ausath, 5/324 no. 5440 dan 1/243 no. 798, serta dalam al-Mu’jamul Kabir, 11/311 no. 12102)

Al-Imam ath-Thabarani rahimahullaahu berkata, “Tidak ada yang meriwayatkan hadits ini dari Hakam kecuali Abu Syaibah dan tidaklah diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas kecuali dengan sanad ini saja.” (al-Mu’jamul Ausath, 1/244)

Dalam kitab Nashbur Rayah (2/153) dijelaskan, “Abu Syaibah Ibrahim bin ‘Utsman adalah perawi yang lemah menurut kesepakatan, dan dia telah menyelisihi hadits yang shahih riwayat Abu Salamah, sesungguhnya beliau bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha, ‘Bagaimana shalat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam di bulan Ramadhan? (yaitu dalil pertama dari pendapat yang pertama).’ Asy-Syaikh Nashiruddin al-Albani rahimahullaahu menyatakan bahwa hadits ini maudhu’ (palsu). (adh-Dha’ifah, 2/35 no. 560 dan al-Irwa’, 2/191 no. 445)

Sebagai penutup kami mengingatkan tentang kesalahan yang terjadi pada pelaksanaan sholat Tarawih, yaitu dengan membaca zikir-zikir atau doa-doa tertentu yang dibaca secara berjamaah pada tiap-tiap dua rakaat setelah salam. Amalan ini adalah amalan yang bid’ah (tidak diajarkan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam). Untuk permasalahan do’a dan dzikir bid’ah pada sholat Tarawih akan dibahas berikutnya, insya Allah.

Wallahu a’lam.