Bermalamkan Niat Puasa Setiap Malam


Bismillah…

Rasululllah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Umar bin Khaththab radhiyallâhu ‘anhu besabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَىَ

“Sesungguhnya, setiap amalan hanyalah bergantung kepada niatnya, dan setiap orang hanyalah mendapat­kan sesuai hal yang ia niatkan.” Riwayat Al-Bukhâry dan Muslim.

Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya benar­-benar memperhatikan masalah niat ini, yang merupakan tolak ukur penerimaan amalan yang ia kerjakan.

Selain itu, tatkala akan berpuasa, seorang muslim hendaknya berniat dengan sungguh-sungguh, dan bertekad untuk berpuasa secara ikhlash karena Allah Ta’âla.

Niat tempatnya di dalam hati dan tidak dilafazhkan menurut kesepakatan ulama fiqih dan bahasa. Hal ini dapat dipahami dari hadits di atas.

Dalam hal niat puasa, ada tiga perkara yang perlu diperhatikan:

Pertama, orang yang akan berpuasa diwajibkan untuk berniat semenjak malam hari, yaitu setelah matahari terbenam sampai fajar Shubuh terbit.

Kedua, kewajiban berniat sejak malam hari ini merupakan hal umum terhadap puasa wajib maupun puasa sunnah menurut pendapat yang lebih kuat dari kalangan ulama.

Ketiga, berniat sekali saja untuk sebulan tidak dibenarkan, tetapi harus berniat setiap malam menurut pendapat yang lebih kuat.

Tiga hal di atas berdasarkan nash tegas,

مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

“Barangsiapa yang tidak berniat puasa sejak malam hari, tidak ada puasa baginya.”

Diriwayatkan secara marfu’ dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dengan sanad yang lemah, namun telah tetap dengan sanad yang shahih dari perkataan Ibnu Umar dan Hafshah radhiyallâhu ‘anhumâ, dan konteksnya mempunyai hukum marfu’, yaitu hukumnya sama dengan hadits yang diucapkan langsung oleh Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Ditulis kembali dari artikel: Niat dalam Hal Berpuasa dari portal website Dzulqarnain.Net